Tabloid On Line
03/09/2010
| Cover Tabloid |
|---|
![]() |
| Main Menu | |||||||||||||
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
|
|
| Umar bin Abdul Azis RA Khalifah Pemberantas KKN |
|
|
|
| 29/08/2008 | |
|
Oleh : Alim Umar bin Abdul Aziz, adalah seorang khalifah di masa kekuasaan Bani Umayah yang terpanggil jiwanya untuk mene gak kan hukum dan keadilan yang telah terpu ruk karena ulah para pemimpin yang ber ambisi. Jabatan dianggap suatu kemuliaan serta dipakai untuk memperkaya diri dan keluarganya, mereke mementingkan ke mewahan yang hanya sesaat tanpa mem perhitungkan tanggungjawabnya di hada pan Allah SWT. Itulah pengaruh nafsu yang membuat manusia ingkar dan serakah serta mem butakan mata hatinya. 1.Umar di Masa Kecil la dilahirkan di Haiwan, sebuah desa di Mesir pada tahun 64 Hijrah (682 Ma sehi). Sang ayah bemama Abdul Aziz bin Marwan, adalah seorang gubemur di Me sir. Sang ibu bemama Ummu Asim, wani ta itu adalah keturunan dari Khalifah U-mar bin Khattab. Masa kecil Umar berada di Madinah, sebuah kota Rasul yang termasyhur se bagai gudang ilmu serta tempat tinggal nya para sahabat, tabiin yang shalih dan alim. Ketika ayahnya wafat di tahun 86 H (704 Masehi) Umar bin Abdul Aziz genap berusia 22 tahun. Di tahun itu juga Khali fah Abdul Malik bin Marwan yang masih pamannya sendiri memanggil pemuda Umar untuk dinikahkan dengan putrinya, Fatimah. Dua tahun kemudian ia diangkat seba gai gubernur di Madinah. 2. Awal Terjadinya KKN Setelah masa Khula faur Rasyidin berlalu de ngan syahidnya Alt bin Abi Thalib Ra. pada ta hun 40 Hijrah dan Muawi yah diangkat sebagai khalifah. Maka sejak saat itu lah kaurn muslimin diha dapkan dengan berba gai ujian, hokum dan ke adilan tidak lagi menda pat perhatian bahkan di sisihkan. Jika pada masa pe merintahan Khalifah Abu Bakar, Umar, Uts man dan Ali Ra, para pe jabat pemerintahan did ominasi oleh mereka yang taqwah serta penuh tanggung jawab, sedangkan pada pemerintahan Bani Umayah keberadaan para pejabat Negara jadi lain. Mereka diangkat berdasarkan kepada suka dan tidak suka tanpa melihat kemam puan yang dimilikinya. Dan itu terbukti ke tika Khalifah Ma’awiyah bin Abi Sufyan me netapkan tradisi baru dengan mengangkat putra mahkota sebagai calon pengganti nya. Sedangkan hampir semua orang tahu, bahwa Zaid bin Mu’awiyah bukanlah anak yang berpendidikan dan berkemampuan. Justru ia terkenal sebagai anak yang suka meninggalkan shalat, pemabuk serta pem buru kesenangan dunia. Padahal disana masih banyak para sa habat rasul yang jauh lebih layak menjadi khalifah. Seperti Hasan bin Alt, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair dan sebagai nya. Sehingga tidaklah aneh jika kebijakan baru yang dibawah kepemimpinan Mu’awi yah adalah penuh kedzaliman. Akibatnya setelah Mu’awiyah wafat dan digantikan oleh putranya, maka ke bobrokan pun terjadi dimana-mana dan jurang pemisah antara rakyat jelata dan penguasa semakin lebar dan sangat da lam. Para pejabatnya berlomba-lomba memperkaya diri, meninggalkan ajaran yang telah ada. 3. Mengalami Berbagai Krisis Hampir semua khalifah sesudah Mu’a wiyah tidak berakhlak mulia, mereka telah menjadi budak nafsu. Dalam pemerinta han Yazid bin Mu’awiyah telah terjadi pem bantaian terhadap keluarga Rasulullah SAW di Karbala. Pembantaian penduduk Madinah di dae rah Masjidil Haram. Di masa pemerinta han Khalifah Abdul Malik bin Marwan, mun cul seorang panglima yang bengis, berna ma Hajjaj bin Yusuf. Pada masa Hisyam terjadi pula pem bantaian terhadap ketunman Alt bin Abi Thalib beserta para pengikutnya. Begitulah keberadaan umat Islam pa da masa pemerintahan Bani Umayah. Ke bobrokan semakin meningkat, korupsi, pembantaian menjadi kebiasaan disana. Sementara Umar bin Abdul Aziz yang menjabat sebagai gubernur di madinah memerintah dengan arif bijaksana, sehing ga popularitasnya berkerobang dan terde ngar dimana-mana. Pada saat khalifah Sulaiman bin Abdul Malik mendekati ajal. Maka tanpa ragu la gi untuk menunjuk sepupunya, Umar bin abdul Aziz sebagai pengganti, Umar sa ngat terkejut, ia merasa tidak tepat uatuk memegang amanah itu. Sehingga dengan halus serta rendah hati ia menolakjabatan tersebut. Namun ketika surat wasiat itu dibaca kan, maka ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengucapkan kalimat tarji’. “Innalillahi wa inna ilaihi roji’uun” Umar sadar, betapa beratnya memimpin negara Islam yang keadaannya telah rusak seperti itu. Sedangkan kekuasaannya terben tang begitu luas, dari perbatasan Perancis di sebelah Barat hingga ke perbatasan India dan Cina di sebelah Timur 4. Memberantas KKN Usai pelantikan sebagai khalifah, Umar bertekad akan memberantas KKN yang telah menjamur serta menghancurkan ni lai- nilai Islam di negerinya. Untuk mencapai pemerintahan yang bersih dan berwibawa tidak cukup dengan hanya berbicara saja atau memberi pena taran kepada bawahan, namun lebih jauh dari itu. Khalifah Umar bin Abdul Aziz me ngawali dari diri dan keluarganya. Fatimah, puteri almarhum khalifah Ab dul malik bin Marwan yang juga istrinya segera dipanggil. Umar menyampaikan isi hatinya: “Wahai istriku, kita tahu bahwa aya handa Abdul Malik dahulu pernah membe rikan banyak perhiasan. Tetapi kita juga tahu, bahwa harta ter sebut sebagian besar dari hasil kedzali man. Untuk itu kanda hanya memberi dua pilihan kepadamu yang harus diambil sa lah satu” Mengembalikan semua per hiasan ke kas negara atau kita ber cerai saja” Ternyata Fatimah dapat menerima akan niat baik serta tanggungjawab sua minya yang sangat berat kepada negara, terutama kepada Allah SWT. Akhirnya dengan rasa ikhlas wanita itu menyerahkan seluruh perhiasannya untuk dikembalikan ke Baitui Maal (kas negara). Dan ia lebih memilih untuk men dampingi sang suami, demikian pula yang dilakukan oleh putra-putrinya. Umar bin Abdul Aziz sangat menekan pola hidup sederhana, sehingga orang ti dak akan menjumpai lagi perbedaan anta ra putra khalifah dengan rakyat jelata. la pun membuat kebijaksanaan yang lain dari khalifah pendahulunya yang suka hidup mewah dan bersenang-senang hingga menghabiskan uang negara. Para bangsawan atau pejabat harus mengembalikan semua kekayaan yang didapat dengan cara yang tidak halal ke pada pemiliknya. Khalifah Umar melakukan pemecatan besar-besaran kepada para pejabat Nega ra dari pusat hingga daerah yang terbukti melakukan penyelewengan. Selanjutnya diganti dengan pejabat baru yang mam pu memberi keteladanan serta berakhlak mulia dan beragama. Apabila pada masa khalifah sebelum nya, kas negara sering dipakai untuk ke pentingan pribadi dan orang-orang terten tu hingga kosong. Sedangkan Khalifah Umar sering mengosongkan untuk kese jahteraan seluruh rakyatnya. Aneh kelihatannya, karena di masa Bani Umayah belum pernah terjadi kebija kan seperti itu. Tetapi pada kenyataannya justru mampu mengatasi pengangguran. Rakyat yang miskin mendapat modal kerja untuk hidup sejahtera. Sehingga pa da akhirnya pemasukan dari sektor zakat mengalami peningkatan tajam dan dapat membantu modal usaha kepada fakir mis kin yang lain. 5.Diantara Keteladanan Khalifah Umar bin Abdul Aziz Ra. Sufyan Ats Tsauri, salah seorang ula ma besar di masa itu, memasukkan U-mar bin Abdul Aziz sebagai Khulafaur Ra syidin yang kelima. Dan hal itu tidak ber lebihan, jika melihat kepribadian Umar yang penuh keteladanan, kemuliaan akh laknya yang mirip dengan Khalifah Abu Bakar, Umar, Ustman dan Alt Ra. Meskipun Khalifah Umar bin Abdul Aziz dari kalangan Bani Umayah yang ter biasa hidup mewah, namun pada kenya taannya ia lebih suka hidup sederhana. Bahkan terkenal dengan kezuhudan ser ta kewara’annya. Pernah ada suatu ma lam ketika Khalifah Umar sedang meme riksa dokumen didalam kamar kerjanya dengan memakai lampu milik negara, ti ba-tiba sang istri mengetuk pintu. Umar segera mempersilahkan masuk dan bertanya: “Ada keperluan apa dinda datang kema ri, keperluan pribadi atau negara?” Tatkala istrinya menjawab bahwa ada urusan pribadi, Umar segera memadam kan lampu tersebu. Tentu saja wanita itu sangat terkejut atas pebuatan suaminya. Selanjutnya khalifah memberikan pen jelasan, bahwa dalam urusan pribadi sa ngat tidak tepat jika memakai lampu yang minyaknya dibeli dengan uang dari kas negara. Di malam yang lain ketika khalifah sedang menulis, kedatangan seorang ta mu. Sementara lampu penerangan yang dipakai hampir padam karena kehabisan minyak. Melihat hal itu sang tamu segera me minta ijin untuk memperbaiki lampu terse but, namun khalifah menolaknya. “Jangan, sangat tidak baik jika seseo rang memperlakukan tamunya sebagai pe layan. Dan itu bukan akhlak mulia.” Tamu: “Kalau begitu, biar saya bangun kan pelayan.” Khalifah : “Jangan, ia baru saja tidur karena dari tadi belum merasakan keleza tan bantalnya.” Khalifah segera mengisi minyak pada lampu tersebut Tamu : “Wahai aminul mu’minin. Kena pa anda sendiri yang mengisi minyak ke dalam lamput itu? Khalifah : “Kenapa ? Kalau saya pergi, tetap sebagai Umar. Pulang pun tetap Umar, tidak kurang sedikitpun dengan apa yang saya lakukan tadi, bukan ? Selamanya saya tetap Umar.” Pada suatu hari datang seseorang de ngan membawa hadiah yang aka diserah kan kepada Khahfah Umar. Tetapi khalifah menolak, sehingga orang tersebut berta nya: “Bukankah Nabi dahulu suka meneri ma hadiah?” Khalifah Umar menjawab dengan sing kat dan tegas: “Hadiah pada zaman Nabi adalah be nar-benar hadiah, sedangkan pada saat ini adalah bentuk lain dari suap atau kolu si.” Suatu hari Khalifah Umar menyuruh pe layannya; “Kipasilah aku sampai tertidur.” Si pelayan segera melaksanakan perintah tuannya untuk mengipasinya sampai tertidur. Dan ketika khalifah ba ngun, ia melihat pelayannya ikut tertidur karena kelelahan. Melihat hal itu, khalifah Umar segera mengambil kipas tersebut dan mengipasi pelayannya. Dan betapa terkejutnya ketika pela yan itu bangun, ia menjerit melihat diri nya dikipasi oleh seseorang yang sangat dihormati. Khalifah menenangkan hati pelayan nya: “Kau juga manusia seperti aku dan juga sama-sama merasakan panas, ma ka aku ingin mengipasimu sebagaimaa engkau mengipasiku.” Pemerintahan khalifah Umar bin Ab dul Aziz yang adil dan bijaksana itu sangat disukai oleh rakyatnya. Tetapi meskipun begitu tidak sedikit yang membencinya, terutama dari kalangan Bani Umayah yang terbiasa dengan hidup mewah. Mereka merasa terancam dengan ke bijaksanaan khalifah. Pada suatu hari me reka menyuap seorang pelayan istana untuk membunuh Khalifah Umar dengan cara meracuni. Namun usaha tersebut berhasil digagalkan. |
| < Sebelumnya | Selanjutnya > |
|---|